Pages

Jumat, 07 Februari 2014

Guru Kehidupan

[ usahamulia.net ] Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan didikte habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang memporakporandakan kota dan desa. Ada yang belajar dari apel yang jatuh disamping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu. Ada guru yang banyak berkata tanpa berbuat. Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata. Ada yang memadukan kata dan perbuatan. Yang istimewa diantara mereka, "bila melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat (khiyarukum man dzakkarakum billahi ru'yatuh wa zada fi'amalikum mantiquh wa raggahabakum fil akhirati 'amaluh)" Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat tak berpotensi belajar dari guru manusia. Yang tak dapat mengambil ibrah dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan untuk itu ia harus membayar mahal. Bani Israil bergurukan nabi Musa As, salah satu Ulul Azmi para rasul dengan azam berdosis tinggi. Bahkan leluhur mereka nabi-nabi yang dikirim silih berganti. Apa yang kurang? Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan menyala, tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setitik api, selain kotoran yang memenuhi wajahmu? Murid-murid Bebal Berbicara seputar orang-orang degil, berarti menimbun begitu banyak kata seharusnya. Seharusnya Bani Israil berjuang sepenuh jiwa dan raga, bukan malah mengatakan: "Hai Musa, kami telah disakiti sebelum engkau datang dan setelah engkau datang," (QS.7:129) karena sesungguhnya mereka tahu ia benar-benar diutus Allah untuk memimpin mereka. Seharusnya mereka tidak mengatakan: "Kami tak akan masuk kesana (Palestina), selama mereka masih ada disana, maka pergilah engkau dengan tuhanmu, biar kami duduk-duduk disini," (QS.5:24) karena berita tenggelamnya Fir'aun di lautan dan selamatnya Bani Israil, adalah energi besar yang mampu meruntuhkan semangat orang-orang Amalek yang menduduki bumi suci yang dijanjikan itu. Adapun yang ditenggelamkan itu Fir'aun, mitos sejarah yang tak terbayangkan bisa jatuh. Kemudian seharusnya mereka yang dihukum karena sikap dan ucapan dungu tadi, pasrah saja di padang Tih, dengan jatah catering Manna dan Salwa serta tinggal beratapkan awan pelindung dari sengatan terik matahari. Ternyata mereka mengulangi lagi kedegilan lama mereka. "Hai Musa, kami tak bakalan sabaran dengan jenis makanan monotype, cuma semacam ini, karenanya berdoalah engkau kepada tuhanmu untuk kami, agar ia keluarkan untuk kami tumbuhan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang puihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya." (QS.2:61) Betul, manusia memerlukan guru manusia, tetapi apa yang dapat dilihatnya diterik siang di bawah sorotan lampu ribuat watt, bila matanya ditutup rapat? Tarbiyah dzatiyah atau pendidikan mandiri untuk menguasai mata kuliah kehidupan sangat besar perannya. Sebuah bangsa yang sudah "merdeka" 54 tahun, namun tak peduli bagaimana menghemat cadangan energi, tak tahu bagaimana membuang sampah, ringan tangan membakar hutan dan me-WC-kan sungai-sungai kota mereka, tentulah bukan bangsa yang pandai mendidik diri. Sebuah bangsa yang tergopoh-gopoh ikutan kampanye anti AIDS, dengan hanya menekankan aspek seks aman (dunia) saja tanpa mengingat murka Allah, tentulah bangsa itu belum kunjung dewasa. Bila diingat 6 dari 10 anak-anak mereka terancam flek paru-paru, lengkap sudah kebebalan itu. Nurani yang Selalu Bergetar Konon, Imam Syafi'ie ra sangat malu dan menyesal bila sampai ada orang mengutarakan hajat kepadanya. "Mestinya aku telah menangkap gejala itu cukup dari kilas wajahnya." Mereka yang akrab dengan arus batin manusia, mestinya selalu dapat menangkap isyarat muqabalah (oposit) makna ayat 2:273, "Engkau kenal mereka dengan ciri mereka, tak pernah meminta kepada manusia dengan mendesak." Sementara yang bukan "engkau" tak dapat membaca gelagat ini: "Si jahil mengira mereka itu kaya, lantaran mereka berusaha menjaga diri." Mereka yang berhasil dalam tarbiyah dzatiyah akan tampil sebagai manusia yang jujur, ikhlas dan merdeka. Karenanya, "Hindarilah bergincu dengan ilmu sebagaimana engkau menghindari ujub (kagum diri) dengan amal. Jangan pula engkau meyakini bahwa aspek batin dari adab dapat diruntuhkan oleh sisi zahir dari ilmu. Taatilah Allah dalam menentang manusia dan jangan taati manusia dalam menentang Allah. Jangan simpan sedikitpun potensimu dari Allah dan jangan restui suatu amal kepada Allah yang bersumber dari nafsumu. Berdirilah dihadapan-Nya dalam shalatmu secara total." (Almuhasibi, Risalatu'lmustarsyidin). Akhirnya, semakin jauh perjalanan tarbiyah dzatiyahnya, semakin banyak kekayaan yang diraihnya. Ungkapan berikut ini tidak ada kaitannya dengan bid'ah atau khilafiyah fiqh. Ia lebih mewakili ibrah agar kita tak terjebak pada aktifitas formal atau sebaliknya. "Pada aspek zahir ada janabah yang menghalangimu masuk rumah-Nya atau membaca kitab-Nya, dan aspek batin juga punya janabah yang menghalangimu memasuki hadhirat keagungan-Nya dan memahami firman-Nya. Itulah ghaflah (kelalaian)" (Ibnu Atha'illah, Taju'l Arus). Hakikat Kematangan Ilmu Kembali ke kematangan pribadi dan keberhasilan tarbiyah dzatiyah, seseorang tak diukur berdasarkan kekayaan hafalannya atau keluasan pengetahuannya, tetapi pada kemampuannya memfungsikan bashirahnya: "Perumpamaan orang yang aktif dalam dunia ilmu namun tak punya bashirah, seperti 100.000 orang buta berjalan dengan kebingungan. Seandainya ada satu saja di tengah mereka yang dapat melihat walau hanya dengan satu mata, niscaya masyarakat hanya mau mengikuti yang satu ini dan meninggalkan yang 100.000". Rasulullah SAW meredakan kemarahan para sahabat yang sangat tersinggung kepada seorang pemuda yang minta izin kepada beliau untuk tetap bisa berzina. "Engkau rela ibumu dizinai orang?" tanya beliau dengan bijak. "Demi Allah, saya tidak rela!" "Relakah engkau jika anak perempuanmu, saudara perempuanmu dan isterimu dizinai orang?" "Tidak, demi Allah!" "Nah, demikianlah masyarakat...." Demikianlah, amtsal merupakan metode pencerahan yang digunakan Al-Qur'an dan Al-Hadist, bahkan dengan kata kunci yang patut dicermati: "....Tak dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu" (29:43). Citarasa yang tinggi dibangun dan sensitifitas dipertajam, mengantarkan manusia kepada puncak pencerahan ruhani mereka. Sebuah ungkapan kedewasaan pun "Semua manusia dari Adam dan Adam dari tanah, tak ada perbedaan antara Arab atas Ajam dan Ajam atas Arab melainkan dengan taqwa." Itulah zaman, saat sejarah tak lagi dimonopoli raja, puteri dan pangeran, tetapi menjadi hak bersama yang melambungkan nama Bilal budak hitam abadi dalam adzan, atau Zaid menjadi satu-satunya nama sahabat dalam Al-Qur'an. Demikianlah kemudian kita kenal Ammar, Sumayyah dan banyak lagi budak yang melampaui prestasi dan prestise para bangsawan. Padahal 13 abad kemudianpun Eropa masih mempertanyakan perempuan makhluk apa. Dan, para intelektualnya sampai pada kesimpulan "Mereka adalah iblis yang ditampilkan dalam tampilan manusia." Justru Muhammad SAW telah memberi standar "Takkan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan takkan menghinakan mereka kecuali manusia hina". Sementara para perempuannya seperti dilukiskan puteri Sa'id bin Musayyab: "Kami memperlakukan suami seperti kalian memperlakukan para pemimpin, kami ucapkan: "Ashlahakallah, hayyakallah!" (Semoga Allah memperbaiki/melindungimu, semoga Allah memuliakanmu)."

Minggu, 22 Desember 2013

Bekal Allah kpd Rasul

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

3 bekal itu diantaranya
Bekal bukti nyata
Kitab
Neraca keadilant

Patokan keadilan
1. Harus bersumber dr kedua belah pihak.
2. .bukti nyata
3. Terang benderangnya bukti
4. Tidak boleh menghukumi seseorg dgb tebang pilih

Selasa, 10 Desember 2013

Habiskan saja gajimu

Pay your god first

1.Wujud syukur
2.Mental berkelimpagan
3. Ongkos kirim

Saving dulu baru shoping
1.inveat right after yoi get income cata benar

Cara kiri
Invest what left from your income

Belajar dari Nabi yusuf as

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

Penghasilan disimpan

Biaya hidup itu murah.....yg mahal itu gaya hidup

Kunci kesejahteraan
Leader take control
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".( 12:55)

Menjaga amanahi
Berpengetahuan

Optimasi rezeki

Kamis, 20 Desember 2012

Daftar Istilah dalam Harakah Islam

1. Amal jama’iy: Beraktiftas atau berjuang secara bersama-sama dalam kerangka jemaah.
2. Amil: Panitia pengelola zakat.
3. Ahlul halli wal ’aqdi: Majelis Permusyawaratan. Fungsi yang diemban oleh Majelis Syura PKS.
4. Amar ma’ruf nahi munkar: Aktifitas mengajak kepada kebaikan dan mencegah
dari keburukan.
5. Aqidah: Keyakinan dasar. Tercermin antara lain dalam kalimat syahadat.
6. Ashalah: Murni, sesuai dengan Al Qur-an dan Hadits sebagai rujukan asli. Sesuai
dengan yang semestinya.
7. Daurah: Training keislaman dalam konteks kaderisasi.
8. Fikrah: Pemikiran, pola pikir, atau paradigma. Biasa digunakan untuk menyebut
suatu kelompok dengan pemikiran Islam tertentu.
9. Halaqah: Kelompok pengajian kaderisasi di jenjang Anggota Pendukung.
10.Halaqah: Kelompok pengajian kaderisasi untuk para Kader Pendukung, yaitu
11.Kader Pemula (Tamhidi) dan Kader Muda (Muayyid). Biasanya
beranggotakan 8-12 orang mutarabbi yang dikelola/dipimpin oleh seorang
murabbi.
12.Harakah: Gerakan. Biasa digunakan untuk menyebut gerakan atau jemaah Islam.
13.Harakah: Gerakan. Biasanya secara spesifik digunakan untuk menyebut gerakan
atau jemaah Islam.
14.Hujjah: Argumentasi.
15.Husnuzh Zhan: Prasangka baik.
16.Iqab: Hukuman atau sanksi.
17.Ijtihad: Berpendapat dengan metodologi tertentu tentang hal-hal yang tidak diatur
secara jelas dan rinci dalam Al Qur-an dan Hadits.
18.Ikhwah atau ikhwan: Saudara laki-laki. Di komunitas Jemaah Tarbiyah/PKS biasa
digunakan untuk menyebut sesama kader. Untuk kader perempuan
digunakan sebutan akhwat. Dalam sapaan digunakan Akhi atau Akhi untuk
laki-laki, dan Ukhti untuk perempuan.
18.Imamah: Kepemimpinan.
19.Iqab: Hukuman atau sanksi atas kesalahan yang dilakukan.
20.Iqtishadi: Bidang ekonomi.
21.Islahul hukumah: Langkah-langkah memperbaiki pemerintahan.
22.Istisyarah: Konsultasi.
23.Kafalah: Bantuan finansial. Biasanya diberikan kepada kader yang mendapatkan
tugas dakwah yang menyita waktu sehingga yang bersangkutan tidak dapat
memenuhi kebutuhan nafkahnya.
24.Kafarat: Penghapus dosa di dunia, agar tidak mendapatkan hukuman dari Allah di
akhirat.
25.Khilaf atau masalah khilafiyah: Perbedaan pendapat mengenai sesuatu hal yang
tidak diatur dengan jelas dalam Al Qur-an maupun Hadits Nabu
Muhammad.
26.Khusnuzh zhan: Berprasangka baik.
27.Lajnah: Komite.
28.Liqa: Pertemuan. Istilah yang digunakan untuk menyebut secara umum pertemuan
kelompok pengajian kaderisasi PKS, yaitu halaqah dan usrah.
29.Ma’nawiyah: Berhubungan dengan kondisi ruhani seseorang.
30.Maisyah: Sumber nafkah/penghasilan.
31.Makruh: Sesuatu yang menurut kaidah fikih Islam tidak dilarang, namun juga
tidak disukai, sehingga dianjurkan untuk ditinggalkan. Diyakini bahwa
meninggalkan sesuatu yang makruh akan mendatangkan pahala.
32.Maktab Siyasi: Sekretariat jemaah untuk urusan-urusan politik.
33.Manhaj: Metodologi.
34.Marhalah: Tahapan dakwah atau jenjang tarbiyah.
35.Maslahah dakwah: Pertimbangan kebaikan atau kemanfaatan bagi dakwah.
36.Maslahat dakwah: Pertimbangan untuk mengambil sebuah pilihan tertentu karena
mengandung manfaat atau kebaikan bagi dakwah dan jemaah.
37.Maslahat: Manfaat atau kebaikan.
38.Mihwar Mu’asasi: Tahapan dakwah kelembagaan politik negara.
39.Mihwar Sya’bi: Tahapan dakwah membina basis masyarakat.
40.Mihwar Tanzhimi: Tahapan dakwah kaderisasi
41.Mihwar: Orbit atau tahapan dakwah.
42.Milad: Peringatan hari lahir atau ulang tahun.
43.Muamalah: Hubungan sosial antar-manusia.
Mu’asasah: Institusi atau yayasan.
Mudawalah: Perdebatan.
Mumayyizah: Ciri khas.
Murabbi: Guru atau ustadz. Kader yang menjalankan peran mengelola halaqah
Murraqib ‘Am: Pengawas umum. Sebutan untuk pimpinan tertinggi Jemaah
Tarbiyah, khususnya dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pimpinan
Tingkat Pusat (DPTP), atau Majlis Riqabah ‘Ammah (MRA).
Mursyid: Guru spiritual.
Mustahiq: Pihak yang berhak menerima zakat.
Mutaba’ah: Evaluasi amalan sehari-hari kader berdasarkan kriteria standar yang
telah ditetapkan untuk masing-masing jenjang.
Mutaba’ah: Monitoring dan evaluasi. Biasa digunakan antara lain dalam konteks
monitoring dan evaluasi sejauh mana para kader melaksanakan ibadah
sehari-hari sesuai dengan standar yang ditetapkan untuk masing-masing
jenjang.
Mutarrabbi: Binaan atau murid. Kader yang menjadi anggota halaqah.
Muwajih: Pengisi materi atau penceramah; orang yang menyampaikan taujih.
Muwashaffat: Kriteria kader. Disusun spesifik untuk tiap jenjang keanggotaan,
masing-masing dengan indikator-indikator yang terinci.
Muzakki: Pihak yang wajib membayar zakat.
Nizham Asasi: Konstitusi. Anggaran Dasar.
PKS Watch: Blog pribadi seseorang dengan nama samaran DOS yang menjadi
ajang curah gagasan dari mereka yang mengkritisi sepak-terjang PKS.
Ditengarai DOS maupun orang-orang yang ikut bersuara di blog ini adalah
para kader atau mantan kader PKS yang tidak puas terhadap PKS. Beberapa
kali DOS menutup blog-nya dan kemudian mengaktifkannya kembali.
Terakhir peneliti mendapatkan informasi bahwa DOS menutup kembali
blog-nya setelah isu PKS sebagai Partai Terbuka mencuat ke permukaan. Ia
mengatakan bahwa blog tersebut dibuat sebagai ekspresi kecintaannya
kepada PKS sebagai Partai Dakwah, sehingga ketika PKS sudah menjadi
Partai Terbuka, dan bukan lagi Partai Dakwah, tak ada lagi alasan eksistensi
blog PKS Watch.
Qadhayya: Masalah, kesulitan.
Qarar: Keputusan.
Qath’i: Dalil syariat yang bersifat jelas dan tegas.
Qiyadah atau Qa’id: Pemimpin.
Rasmul bayan: Kumpulan materi tarbiyah dalam bentuk skema/bagan berbahasa
Arab.
Ru’yatul hilal: Teknik menentukan penanggalan dalam Islam dengan melihat
terbitnya bulan.
Sam’an wa tha’atan: Dengar dan taat. Sikap prajurit yang dianggap merupakan
sikap ideal seorang kader Jemaah Tarbiyah.
Sirah: Sejarah kehidupan. Istilah ini biasa digunakan merujuk pada sejarah
perjalanan kehidupan Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat beliau.
Sunatullah: Hukum Allah. Pola keteraturan yang terdapat di alam semesta.
Syubhat: Sesuatu yang berdasarkan ketentuan syariat Islam hukumnya tidak jelas
dibolehkan (halal) atau dilarang (haram). Dalam salah satu hadits, Nabi
Muhammad SAW menegaskan bahwa menghindari hal-hal yang syubhat
akan menjauhkan dari yang haram.
Syura: Musyawarah.
Ta’addud: Poligini. Beristri lebih dari seorang.
Tabayyun: Proses klarifikasi tentang suatu masalah dengan menanyakan langsung
kepada pihak-pihak yang terkait atau terlibat.
Tadarruj: Bertahap, berjenjang. Merupakan salah satu karakteristik tarbiyah.
Ta’limat: Instruksi yang disampaikan melalui struktur partai secara top down.
Tabayyun: Proses klarifikasi atau meminta keterangan mengenai suatu kabar atau
tuduhan kepada pihak-pihak yang terkait.
Tafahum: Saling memahami.
Tafaruq: Mengalokasi seluruh waktu untuk mengelola urusan-urusan jemaah atau
partai.
Tahun qamariyah: Metoda penanggalan berdasarkan perputaran bulan
mengelilingi bumi, yang menjadi dasar penanggalan Hijriyah.
Tanzhim: Struktur.
Tanzhim nukhbawi: Organisasi kader.
Tanzhim ‘alami: Struktur di tingkat internasional.
Taqwim: Proses evaluasi pencapaian kriteria tarbiyah dan kenaikan jenjang kader.
Melibatkan murabbi atau naqib sebagai muqawwim, yaitu pihak yang
mengevaluasi, dan mutarrabbi atau anggota usrah sebagai muqawwam,
yaitu pihak yang dievaluasi.
Tarbawi: Hal-hal yang terkait dengan pembinaan kader.
Tariqah: Jalan.
Tasamuh: Saling bertoleransi.
Tasyaddud: Sikap ekstrem, berlebih-lebihan.
Taujih: Arahan. Ceramah.
Tawadhu: Rendah hati, menjauhkan diri dari sifat sombong.
Tawazun: Sikap seimbang atau jalan tengah.
Tayamum: Ritual pengganti wudhu dengan menggunakan debu. Dilakukan
manakala tidak menjumpai air untuk berwudhu.
Tsaqafah: Wawasan.
Tsiqah: Rasa percaya. Trust.
Ubudiyah: Hal-hal yang menyangkut peribadatan.
Ukhuwwah: Persaudaraan.
Ulil ‘amri: Pemimpin.
Uslub: Strategi atau cara.
Usrah: Kelompok pengajian kaderisasi untuk para Kader Inti. Dikelola dan
dipimin oleh seorang naqib.
Uzlah: Mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat ramai.
Wajihah: Institusi yang berada di luar struktur PKS, namun memiliki keterkaitan
dengan partai.
Wara’: Sikap berhati-hati dan menjaga diri terhadap sesuatu yang dikhawatirkan
bisa menjerumuskan ke dalam dosa.
Wazhifah: Amalan rutin.
Zuhud: Menahan diri dari bersikap berlebih-lebihan terhadap dunia, yang
dimanifestasikan antara lain dengan bergaya hidup sederhana.

Minggu, 25 November 2012

Antara PKS, Tarbiyah, dan Ikhwanul Muslimin - dalam perjalanan sejarah

Hasan Al-Banna adalah seorang arsitek sebuah peradaban. Bahkan seolah-olah ia dilahirkan untuk membangun kembali harga diri umat yang sedang runtuh dan melorot. Pembangunan kembali itu ia awali dengan mendirikan madrasah terbesar dalam sejarah gerakan dakwah; Madrasah hasan Al-Banna.

Penyebutan Madrasah Hasan Al-Banna ini disematkan oleh salah satu kader terbaik Ikhwanul Muslimin, Syaikh Yusuf Qaradhawi. Sebuah madrasah yang memiliki dua tujuan besar pembangunan umat Islam. Dua tujuan itu adalah, ilmiyah dan amaliyah. Berilmu dan beramal.



Dalam sistem pendidikannya, Ikhwanul Muslimin berorientasi pada dua pokok tujuan pendidikan. Pendidikan harus melahirkan manusia-manusia yang berjiwa besar dan berakhlak mulia. Hasan Al-Banna mengatakannya sebagai “Tongkat Komando Perubahan”.



Untuk menyiapkan kader-kader yang berjiwa besar dan berakhlak mulia, Ikhwanul Muslimin memiliki sistem tarbiyah atau pendidikan yang dirumuskan oleh sang imam sendiri. Disiplin tarbiyah yang sering kali disebut dengan al-Iltizamu al-Kamil atau tingkat kedisiplinan yang sempurna.



Paham

Setiap kader Ikhwanul Muslimin harus memulainya dari tangga kepahaman. Tanpa memahami ajaran dan pesan-pesan besar yang diturunkan Allah dalam Islam melalui Rasul-Nya, tak ada perubahan besar yang akan terjadi. Perubahan hanya bisa terjadi dan dilakukan, jika para pelaku, pendukung, dan pemimpinnya memahami apa tujuan hidup dalam Islam.



Ikhlas

Tahap berikutnya adalah ikhlas. Pemahaman yang sempurna dan baik akan melahirkan jiwa-jiwa yang ikhlas untuk mewujudkan cita-cita. Rela berkorban apa saja untuk kemuliaan mimpi-mimpi agung manusia. Keikhlasan itu bisa terwujud nyata dan tercermin dari amal, perbuatan, ucapan, dan pemikiran yang hanya memiliki satu tujuan, yaitu ridha Allah, Sang Pencipta.



Amal

Keikhlasan pada akhirnya akan mengantarkan setiap kader pada amal yang maksimal. Tanpa keikhlasan, amal hanya menjadi beban yang memberatkan. Amal yang ditandai keikhlasan akan selalu menjadi amal yang paling baik. Karena, keikhlasan memintanya untuk melengkapi amal berlandaskan ilmu. Amal pun dirumuskan pada beberapa tahapan dan tingkat.



Pertama, memperbaiki diri sendiri.



Kedua, memperbaiki lingkungan trekecil dari masyarakat, yakni keluarga.



Ketiga, membentuk masyarakat Islami.



Keempat, membebaskan tanah air dari cengkraman penjajah.



Kelima, memperbaiki pemerintahan dan negara.



Keenam, mempersiapkan seluruh aset yang dimiliki untuk kebaikan kaum Muslim.



Ketujuh, menegakkan kepemimpinan umat di seluruh dunia dan menyebarkan dakwah Islam yang mulia.



Jihad

Dalam agama yang mulia ini, tidak ada amalan yang paling mulia kecuali berjihad di jalan-Nya. Berjihad dengan hati, lisan, tangan, dan akal. Jihad dengan kata-kata, tulisan, kekuasaan, dan paling tinggi adalah jihad dengan jiwa dan raganya.



Taat

Kader yang baik dalam Ikhwanul Muslimin adalah kader yang mampu memupuk ketaatan kepada pemimpin dan kebenaran. Dan, satu-satunya syarat ketaatan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah. Tidak ada ketaatan jika bertujuan maksiat kepada Allah.



Tsabat

Bersungguh-sungguh meniti dan mewujudkan cita-cita dan tujuan mulia juga merupakan hasil yang ingin dicapai dalam sistem tarbiyah Ikhwanul Muslimin. Tanpa kesungguhan, tidak akan ada cita-cita yang bisa dicapai dengan sempurna. Setiap tujuan selalu meminta upah dan bayaran, satu di antara upah yang harus kita berikan adalah kesungguhan hati dan tekad jiwa.



Tajarrud

Setiap perjalanan selalu menyimpan aral dan rintangan. Dan terkadang, aral tersebut adalah godaan-godaan cara berpikir dan bersikap pada sesuatu hal. Karena itu, hasan Al-Banna ingin para kadernya selalu membersihkan diri dari godaan-godaan yang bersifat paham dan pemikiran selain Islam. Kader Ikhwanul Muslimin harus terbebas dari belenggu berpikir orang-orang ternama dan individu-individu, kecuali dalam rangka taat kepada Allah.



Ukhuwah

Perjalanan yang panjang menuju cita-cita yang mulia selalu berat dan terjal. Karena itu, satu-satunya yang bisa menjadi lampu pertolongan dalam perjalanan ini adalah tongkat ukhuwah dan persaudaraan yang menyejukkan. Setiap Muslim adalah saudara yang selalu siap memberi pertolongan kepada saudaranya.



Tsiqah

Tidak ada pertolongan yang lebih indah seperti pertolongan yang diberikan atas dasar rasa kepercayaan. Kepercayaan bahwa kita berada di jalan yang sama dan menuju titik akhir yang sama pula. Kepercayaan akan melahirkan rasa cinta, saling menghargai, dan penghormatan, bahkan pengorbanan.



Dengan sistem seperti itu, Ikhwanul Muslimin seperti mendekati manusia dengan cara yang mereka inginkan. Ikhwanul Muslimin terus berkembang. Pelan tapi pasti, membesar dan memberikan pengaruh, tidak saja di Mesir, tapi kelak juga lebih dari 40 negara di seluruh dunia.



Pada awal 1941, Ikhwanul Muslimin memiliki anggota 100 orang, orang-orang yang dipilih sendiri oleh hasan Al-Banna. Penguasa Inggris yang menyadari embrio ini memberikan peringatan kepada penguasa Mesir pada saat itu, Raja Faruq. Tetapi, sang raja memandang remeh dan tak menghiraukan gerakan yang kelak akan menggegerkan dunia ini.



“Apalah yang mungkin bisa dilakukan oleh seorang pengajar anak-anak,” kata raja Faruq tak memandang sebelah mata.



Kemudian, Hasan Al-Banna memindahkan kantor Ikhwanul Muslimin, yang semula dui Islamiliyyah ke al-Qadhirah atau Kairo, ibu kota Mesir. Perkembangan Ikhwanul Muslimin di kedua kota ini sungguh luar biasa. Mencengangkan!



Hasan Al-Banna dan kafilah dakwahnya merambah semua wilayah di Mesir, dari gang-gang kecil sampai ke perkantoran. Hanya beberapa tahun, Ikhwanul Muslimin menjelma menjadi gerakan besar yang mulai mengkhawatirkan penjajah. Apalagi setelah Ikhwanul Muslimin turut berjihad membebaskan Palestina dari kekangan Zionis Israel.



Pada 1947-1948, Ikhwanul Muslimin, dengan dipimpin langsung oleh sang imam, mengirimkan 10.000 pasukan pejuang Ikhwan ke Palestina untuk membebaskan tanah suci itu dari penjajah Zionis Israel. Pasukan yang gagah berani, yang tak dikenal sama sekali oleh dunia Arab saat itu. Pasukan gagah berani yang keluar dan dilahirkan oleh sistem pendidikan Ikhwanul Muslimin. Dari Madrasah Hasan Al-Banna, Ikhwanul Muslimin berhasil mengirimkan pasukan-pasukan yang lebih mencintai syahid di jalan Allah, membantu saudara seiman di Palestina.



Melihat perkembangan yang makin tak terkendali, penjajah Inggris dan Raja Faruq mulai merencanakan sesuatu untuk menghentikan pergerakan Ikhwanul Muslimi. Perintah penangkapan para anggota Ikhwan mulai diberikan. Penjara-penjara mulai dipenuhi oleh para pemuda dan pemimpin Ikhwanul Muslimin. Tetapi, mereka sengaja tak menyentuh sang imam, Hasan Al-Banna dibiarkan di luar penjara.



Diam-diam, rencana makar sedang disiapkan untuknya.



Pada 8 November 1948, Perdana Menteri Mesir, Muhammad Fahmi Naqrasyi, membekukan Ikhwanul Muslimin. Ia menyita dan merampas seluruh aset lembaga tersebut. Mulai dari kantor berita sampai barang terkecil yang bisa disita.



Pada Desember 1948, Naqrasyi diculik oleh seorang tak dikenal. Ia kemudian ditemukan tanpa nyawa. Seluruh pendukungnya melayangkan tuduhan bahwa Ikhwanul Muslimin yang melakukan penculikan dan pembunuhan. Mereka turun ke jalan-jalan dan meneriakkan ganyang Hasan Al-Banna. “Kepala Naqrasyi harus dibayar dengan kepala Hasan Al-Banna,” ancam mereka.



Pada 12 Februari 1949, di satu pagi yang penuh kesaksian, peristiwa besar terjadi. Menurut Fathi Yakan, seorang petinggi militer Mesir bernama Mahmud Abdul Majid mengutus pembantaian terkeji kepada seorang pemimpin besar, Hasan Al-Banna.



Di depan Kantor Pusat Pemuda Ikhwnaul Muslimin, peluru-peluru berhamburan menembus tubuhnya. Hasan Al-Banna meregang nyawa. Ia dilarikan ke rumah sakit, tapi intelijen yang keji telah mempersiapkan segalanya. Aliran listrik dipadamkan, dokter dan perawat telah diancam agar tidak memberikan pertolongan, apalagi menyelamatkan nyawa Hasan AL-Banna.



Darah terus mengucur dari tubuh Hasan Al-Banna. Karena terlalu banyak darah yang mengalir, akhirnya peristiwa di pagi buta itu mengantarkannya kepada rabnya yang paling mulia. Hasan Al-Banna menemui syahidnya.



Namun, kekejian belum juga usai. Hanya ayahHasan Al-Banna dan empat orang perempuan yang diizinkan untuk mengantarkan pemakaman rahasia yang dilakukan oleh intelijen Mesir saat itu. Mereka dikawal oleh moncong senjata yang siap menyalak kapan saja, mengakhiri nyawa. Pemakaman dijaga ketat. Pemerintah Mesir tak mengizinkan orang untuk berkumpul, apalagi berkerumun, di tempat lain, Raja Faruq merasa lega mendengar kabar hasan Al-Banna telah diselesaikan.



Setelah itu, pada 1954, pembunuhan-pembunuhan lain susul-menyusul. Kairo dan seluruh Mesir dimerahkan oleh darah dan diramaikan oleh nyawa para syuhada Ikhwanul Muslimin yang tak kenal kata menyerah. Termasuk para pemimpin Ikhwanul Muslimin selain Hasan Al-Banna. Abdul Qadir Audah, Muhammad Faraghalli, Yusuf Thal’at, Handawi Duwair, Ibrahim Thayyib. Dan Muhammad Abdul Lathif dihukum mati oleh Perdana Menteri Mesir Gamal Abdul Nasser.



Penjara penuh dengan beribu-ribu pejuang Ikhwanul Muslimin. Perburuan terus dilakukan untuk membunuh dan membinasakan Ikhwanul Muslimin. Tetapi, gerakan ini tak akan pernah bisa mati. Gerakan ini seperti aor yang akan terus mengalir meskipun dibendung sekuat apa pun.

Ikhwanul Muslimin terus menemukan caranya untuk tumbuh dan menjadi besar meskipun beribu makar telah disiapkan untuk melumpuhkannya. Gerakan Ikhwanul Muslimin menjadi warisan terbesar yang ditinggalkan oleh sang guru, Hasan Al-Banna.



Sebuah warisan yang harus dipelajari oleh semua orang yang menerimanya. Warisan yang selalu dikukuhkan, di manapun benihnya disemai di penjuru dunia. Madrasah Hasan Al-Banna yang bernama Ikhwanul Muslimin, oleh majalah al-Mujtama’ disebutkan, kini telah menyebar dan memberikan inspirasi tak kurang di 70 negara di seluruh dunia. Dari Turki sampai Sudan, dari Afganistan sampai Pakistan, bahkan di negeri kita sendiri. Indonesia. Kita bisa dengan mudah menemukan jejak dan warisan yang ditinggalkan oleh Hasan Al-Banna. Warisan yang lebih berharga daripada harta. Warisan yang lebih mulia daripada intan permata. Warisan yang akan mengantarkan kita pada ajaran mulia yang diturunkan Alah SWT lewat Rasul-Nya. Warisan yang akan menyelamatkan manusia.



Pada 8 Juli 2001, untuk pertama kalinya Tarbiyah menyebut dirinya Tarbiyah, secara langsung. Lewat sebuah seminar yang bertajuk “Tarbiyah di Era Baru” yang digelar di Masjid Salam Universitas Indonesia, Depok.



Bahkan, dalam momentum ini pula, para aktivis Tarbiyah bersepakat mendaulat K.H. Rahmat Abdullah, yang saat itu menduduki jabatan Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan sebagai Syaikhut Tarbiyah, sang Syaikh Tarbiyah. Sebuah babak baru yang lain dari gerakan Tarbiyah yang sempat pula disebut dengan Jamaah Usrah ini.



Pada tahun 2001 atau 1442 H, lewat sebuah seminar, dicanangkan sebagai tahun kebangkitan Tarbiyah Islamiyah di Indonesia.



Tarbiyah adalah sebuah babak baru dari sebuah gerakan Islam di Indonesia. Tak jelas tahun berapa, Tarbiyah yang sering disebut-sebut sebagai anak yang lahir dari pemikiran gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir ini hadir dan mulai tumbuh di Indonesia.



Tetapi, jejaknya masih bisa dirunut lewat pemikiran M. Natsir yang pernah bersentuhan dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin. Sebelumnya, bahkan pernah tercatat sebuah partai bernama Perti, Persatuan Tarbiyah.



Bahkan, Ketua Partai Masyumi ini pernah mengirim tokoh Masyumi yang lain, K.H. Bustami Darwis, seorang ulama Sumatera Barat yang menetap di Bandung untuk mempelajari secara khusus konsep pendidikan dan pengkaderan yang dicetuskan oleh Hasan Al-Banna itu.



K.H. Bustami Darwis sendiri pernah mendapat gemblengan langsung dari tokoh Ikhwanul Muslimin, salah satunya Abul Hasan Ali An-Nadwi ketika bermukim di India.



Tak jelas benar apa yang telah dihasilkan dan dirintis atas persentuhan dan usaha dua tokoh tadi, M. Natsir dan K.H. Bustami Darwis dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin. Tetapi, diam-diam, ada sebuah gairah baru dalam ber-Islam yang tumbuh, khususnya di kalangan anak-anak muda, terutama di kampus universitas dan perguruan tinggi. Anak-anak muda yang sebelum 1998, membangun semacam dunia tersendiri dan komunitas yang lain. Gadis-gadis yang aktif dalam gerakan baru yang masih serba “misterius”, di awal 1970-an sudah mulai mengenakan jilbab. Para prianya pun punya tradisi baru, memelihara jenggot sebagai tanda pengikut sunnah.



Orde Baru yang berada pada puncak-puncak kekuasaannya pada 1970-an sampai 1980-an, punya peran tersendiri dalam kelahiran generasi yang kelak disebut dengan generasi Tarbiyah ini.



Seperti air, Orde Baru yang demikian represif membuat anak-anak muda dari generasi awal Tarbiyah mencari jalan dan celahnya sendiri untuk menyiasati situasi. Orde Baru memang belum bisa diruntuhkan dan dijebol, tapi parit-parit kecil yang berupa pertemuan dari rumah ke rumah, dari daurah ke daurah (pelatihan dan pendidikan yang bersifat keagamaan yang sering dilaksanakan oleh aktivis Tarbiyah) dengan rutin dan masif dilakukan oleh generasi awal ini.



Selain dari tumah ke rumah, dan dari satu daurah ke daurah lainnya, yang dilakukan sebagai reaksi atas represifnya penguasa, sebenarnya ada fenomena lain yang dimunculkan oleh Orde Baru atas gerakan ini. Fenomena itu adalah dibukanya kesempatan pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi karena perbaikan angka ekonomi Indonesia pada tahun-tahun itu. Saya memang belum punya detail data tentang hal ini, tapi secara sepintas bisa disimpulkan bahwa ini berarti pula kesempatan baru yang tercipta bagi embrio gerakan Tarbiyah.



Membanjirinya anak-anak muda yang memasuki dunia kampus, menciptakan parit tersendiri untuk air yang terus mencari celah agar terus mengalir.



Akhirnya, kampus, diakui atau tidak, menjadi semacam inkubator bagi proses gerakan Tarbiyah. Masa kuliah telah menjadi masa inkubasi bagi para aktivis dakwah tarbiyah. Masjid-masjid kampus mulai makmur dengan kehadiran mereka, jilbaber-jilbaber pun kian tahun kian banyak ditemui di dalam kampus. Dan, yang paling signifikan adalah, tak hanya ilmu-ilmu eksakta dan humaniora yang mereka pelajari dari kampus-kampus tempat mereka kuliah, tapi juga ilmu-ilmu agama lewat daurah dan dakwah gerakan Tarbiyah.



Meskipun setiap tahun populasi Tarbiyah kian signifikan di berbagai universitas baik negeri maupun swasta, belum juga membantu mengidentifikasikan apa, siapa, dan bagaimana gerakan ini. Mereka ada, tapi susah dipetakan, mereka signifikan, tapi sulit dijelaskan.



Seorang sahabat saya yang menulis “Fenomena Tarbiyah dan Partai Keadilan”, Ali Said Damanik dalam skripsi S1 di FISIP UI, dengan sangat menarik menuliskannya.



“Mereka anak-anak muda yang berbasis di mushala dan masjid-masjid kampus ini menciptakan ruang maya di tengah masyarakat. Mereka bisa menciptakan sebnuah ruang kultural yang bisa dilihat, tapi sulit untuk dilacak dan dibuktikan eksistensinya. Masyarakat sempat dibuat bingung dengan anak-anak muda yang terus lahir, tumbuh, dan hidup di tengah-tengah mereka sendiri, tetapi berbeda ekspresinya dengan masyarakat kebanyakan.”



Mereka terus bergerak, membangun pertumbuhan-pertumbuhan lewat liqo-liqo atau halaqoh yang setiap pekan rutin mengadakan pertemuan. Liqo dalam bahasa asalnya, Arab, berarti pertemuan, dan halaqoh adalah kelompok dari pertemuan itu. Tetapi, dalam komunitas Tarbiyah, kata tersebut digunakan untuk terminologi pertemuan dalam rangka pembinaan, baik tentang pemahaman Islam, moral dan akhlak, dakwah dan sosial maupun tentang pendidikan politik dan juga pemikiran.



Pada mulanya, liqo dilakukan dengan sedikit tersembunyi atau tidak terlalu terbuka. Sekali lagi, maklum, sebab utamanya adalah Orde Baru dan kekuasaan yang tak menghendaki kekuatan lain tumbuh dan menguatkan diri. Tetapi, kian lama kegiatan-kegiatan liqo semakin terbuka, karena memang, tidak satu pun rahasia atau semacam agenda konspirasi yang dibahas dalam pertemuan-pertemuan semacam ini. Liqo membahas masalah-masalah pendidikan karakter dan pribadi, mengajak orang dalam kebaikan, dan berbagi pengalaman dalam konteks keberagamaan .



Liqo bisa di mana saja. Di rumah-rumah anggota kelompok, di masjid atau mushala kampus, di bawah pohon rindang, bahkan di Kebun Raya Bogor yang sejuk dan penuh keindahan.



Yang menarik dari perkembangan gerakan Tarbiyah ini, dari dulu hingga sekarang, sebagian besar para aktivisnya adalah para sarjana atau mahasiswa dari bidang ilmu-ilmu eksakta. Sarjana matematika, biologi, kimia, dan fisika, teknik mesin atau sipil adalah mayoritas penghuni gerakan ini.



Bahkan, kini dikabarkan aset Tarbiyah yang kelak “dimerger” ke dalam Partai Keadilan Sejahtera berupa orang-orang pintar di ilmu eksakta sebanyak lebih dari 200 doktor dan Ph.D. Mulai dari kimia, fisika, pertanian, sampai teknik nuklir. Sebuah fenomena yang belum tentu dimiliki oleh partai-partai besar lainnya yang sudah lebih dulu ada di Indonesia, seperti Golkar, PPP, bahkan PDIP sekalipun.



Tentang fenomena ini, ketika memberikan taujih, ustad Anis Matta pernah menjelaskan kepada saya ketika saya menanyakan fenomena tersebut. Beliau mengatakan, “orang-orang eksakta biasanya menerima kebenaran sebagai kebenaran, lalu mengikutinya tanpa banyak pertanyaan. Berbeda dengan berdakwah di kalangan ilmu sosial, bahkan lebih berat lagi di kalangan art. Mereka selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa.”



Proses itu menghasilkan dua efek yang kahirnya memperbanyak fenomena kemunculan mayoritas kaum eksakta dalam gerakan dakwah ini.



Efek pertama, datang dari kaum eksakta yang sering kali tak memerlukan penjelasan yang rumit untuk tertarik pada sesuatu yang dianggap benar. Dan ini multiplayer effect, sebab, major eksakta pada masa itu menjadi jurusan yang favorit dan biasanya jurusan favorit akan mempunyai daya magnetis tersendiri untuk terus menghasilkan simpatisan yang kelak berproses menjadi kader dakwah Tarbiyah.



Efek kedua yang dimunculkan adalah, adanya semacam keengganan di antara pada kader dakwah tarbiyah untuk terjun dan melakukan rekruitmen kaderisasi di ranah ilmu-ilmu sosial dan art. Karena itu tadi, banyak pertanyaan yang harus dijawab sementara kesiapan untuk memberikan jawaban terlalu minim.



Keminiman para kader dakwah Tarbiyah dalam memberikan jawaban yang diharapkan oleh kaum di ilmu sosial atau art, sebetulnya sebuah keminiman yang bisa dianggap positif menurut saya. Sebab, mereka digedor-gedor oleh semangat saling berbagi dalam kebaikan lewat dakwah mereka. Bagaimanapun minimnya ilmu yang mereka kuasai, justru dari situlah yang memacu pertumbuhan gerakan ini.



Salah satu yang layak dicatat sebagai faktor penentu perkembangan dakwah gerakan Tarbiyah ini adalah semangat mereka untuk berbagi kebaikan, seluas mungkin, sebanyak mungkin. Para aktivis Tarbiyah tak menunggu sampai memiliki bertumpuk-tumpuk ilmu, beratus-ratus hafalan hadits atau berjuz-juz hafalan qur’an untuk berdakwah.



Satu hadits yang mereka dapatkan dalam pertemuan mingguan, atau satu ayat yang mereka bahas dalam liqo akan segera mereka sebarkan dengan semangat berbagi kebaikan, berbagi ilmu, dan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Mereka mencoba benar-benar mengaplikasikan sebuah hadis dan ayat Al-Qur’an yang berbunyi, Balighu anni walau ayah. Sampaikan dariku walau hanya satu ayat.




Tumbangnya Orde Baru dan munculnya gerakan reformasi pada 1998 di Indonesia mengantar sebuah babak baru lagi bagi gerakan Tarbiyah. Berbagai partai bermunculan, tidak saja belasan atau pulhuna jumlahnya, tapi ratusan.



Dan, salah satu partai baru yang ikut meramaikan suasana tersebut adalah Partai Keadilan, sebuah partai yang bermetamorfosis dari kelompok dakwah, gerakan Tarbiyah.



Partai Keadilan didirikan tanggal 20 Juli 1998, tapi secara resmi baru dideklarasikan pada 9 Agustus 1998 di halaman Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.



Singkat cerita, berbondong-bondonglah para kader Tarbiyah, mendeklarasikan dirinya pula sebagai kader Partai Keadilan.



Saya berusaha membatasi untuk tidak terlalu berkutat dan membahas tentang fenomena Partai Keadilan. Karena itu, izinkan saya langsung mengajukan sebuah fakta bahwa PK dinyatakan sebagai salah satu partai yang masuk dalam tujuh besar partai pendulang suara. Dengan cara dan sistem sel yang telah terbentuk dalam kultur Tarbiyah, dengan semangat dan kerja keras berbagi kebaikan, sebetulnya fenomena mencuatnya PK sebagai partai pendulang suara yang efektif sangat bisa dipahami. Sebab, partai ini adalah partai kader.



Pada Pemilihan Umum 1999, Partai Keadilan berhasil meraup sebanyak 1.436.563 suara umat Islamdi seluruh Indonesia. Artinya, PK berhasil mendapatkan 1,36 % dari total suara sah hasil pemilu 1999. Satu peringkat di bawah Partai Bulan Bintang (PBB) yang memproklamasikan diri sebagai penerus cita-cita Masyumi. PBB yang dipimpin oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra ini mendapatkan 2.069.708 suara.



Lewat pemilu itu, PK berhasil mendudukkan seorang kadernya, Nur Mahmudi Ismail dalam kabinet Gotong Royong, memimpin Departemen Kehutanan dan Pertanian.



Namun, itu pun tidak berlangsung lama, setelah Presiden Abdurrahman Wahid lengser, Nur Mahmudi juga dilengserkan dan diganti. Presiden Megawati menunjuk salah seorang fungsionarisnya sebagai Menteri Kehutanan.



Meskipun relatif singkat, Nur Mahmudi, seorang kader Tarbiyah, yang sejak awal tulisan ini dijelaskan berciri pada kekuatan akhlak dan moral, mencatat rekor pemberantasan praktik KKN yang cukup signifikan. Bahkan, pada masa kepemimpinan Nur Mahmudi pula, Bob Hasan, Raja HPH berhasil dikirim ke Nusa Kambangan.



Undang-Undang Pemilu yang mengharuskan sebuah partai peserta pemilu sebelumnya mengganjal Partai Keadilan untuk turut dalam pelaksanaan pemilihan umum tahun 2004. Tetapi, sebuah siasat ditemukan dengan membuat partai baru bernama Partai Keadilan Sejahtera. Baju baru untuk orang-orang yang sudah ada sebelumnya, kira-kira begitulah Partai Keadilan Sejahtera.



Sang kakak pun meleburkan diri pada diri sang adik. Partai Keadilan menggabungkan dirinya menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Tak hanya bisa turut dalam Pemilihan Umum legislatif lalu, PKS juga menjadi partai kuat yang memenangkan suara di banyak daerah. Di DKI Jakarta misalnya, PKS memimpin perolehan suara di urutan pertama, disusul oleh partai baru, Partai Demokrat di urutan kedua. Selain di Jakarta, di propinsi Maluku Utara juga memimpin perolehan suara.



PK memperoleh 8.325.020 suara atau 7,34% dari total suara sah yang dihitung oleh KPU. Terjadi lonjakan suara berjuta-juta besarnya dari suara sebelumnya yang hanya 1.436.563.



Sedangkan Partai Bulan Bintang, yang pada pemilu 1999 berada di atas PK, kini jumlahnya hanya 2.970.487. Bahkan, berada pada peringkat delapan di bawah Partai Amanat Nasional yang juga menurun jauh jumlah perolehan suaranya.



Kerja keras kader PKS lewat dakwah, lewat gerakan Tarbiyah-nya membuktikan bahwa Partai Islam layak dipilih dan diharapkan. Tetapi di balik itu, saya sebetulnya memendam kekhawatiran atas komunitas yang punya potensi besar ini. Sebuah kekhawatiran atas napas panjang dan endurance kerja dakwah dari sebuah komunitas bernama Tarbiyah.



Sebelum sampai ke sana, mari saya ceritakan dulu tentang satu buku lagi yang berkaitan dengan Tarbiyah, dan kali ini mengupasnya dalam kemasan nama PKS, Partai Keadilan Sejahtera. Sebelum saya melakukan perjalanan ke Maluku, seorang teman lama saya, Aay Muhammad Furkon menerbitkan tesis S2 menjadi sebuah buku yang berjudul “Partai Keadilan Sejahtera; Ideologi dan Praksis K aum Muda Muslim Indonesia Kontemporer.”



Dalam tesisnya, Furkon mencoba mencari dan menggali akar kelompok Tarbiyah, secara historis dengan mencoba menguhubungkannya dengan gerakan-gerakan Islam terdahulu di Indonesia. Tesis ini juga dibedah secara umum di Perpustakaan Nasional dengan mendatangkan William Lidle, Indonesianis asal Ohio University; Anis Matta, Sekjen PKS; dan Aay Muhammad Furkon sebagai pembicara.



Bill lidle mendapat informasi yang lebih kompleks tentang pengaruh Ikhwanul Muslimin di Indonesia daripada informasi yang ia dapatkan dari buku tadi.



Saya mengucapkan terima kasih kepada teman saya yang telah berbaik hati untuk mem-forward-kan email yang dia dapatkan dari Prof. William Lidle kepada saya. Dalam suratnya, Prof . William Lidle menuliskan:



Terima kasih atas kiriman makalah Anda yang sangat menarik sebagai analisis tentang Tarbiyah dan PKS, dan juga sebagai cermin harapan Anda.



Ketika saya membaca tulisan Furqon, saya mulai mendapat sebuah gambaran tentang PKS yang lebih kompleks, berlapis, ketimbang gambaran yang saya peroleh sebelumnya dari buku Ali Said (yang juga saya kagumi), dan tulisan-tulisan lain. Dan kompleksitas itu menarik sekali, pertama, dari segi pengertian pokok saya tentang Islam dan politik di Indonesia, kedua, dari segi yang lebih umum. Mengenai yang pertama, saya dulu berpendapat bahwa strategi politik M. Natsir selama Orde Baru telah ggal, hampir total. Natsir dan teman-teman mendirikan DDII pada awal Orde Baru sebagai alat prapolitik, jaringan kader, dan kesadaran ideologis. Mereka mengharapkan hal itu bisa digerakkan pada waktu yang tepat di masa depan ketika Soeharto menjadi lemah atau tidak berkuasa lagi. Kegagalan mereka, saya ukur dengan persentase suara yang diterima dalam pemilu 1999 oleh PBB, yang mengaku sebagai kelanjutan tradisi Masyumi/DDII/Natsir.



Sebaliknya, saya menganggap Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid sebagai pemimpin politik/sosial yang berhasil. Keberhasilan mereka, saya ukur dengan persentase suara yang diberikan kepada partai-partai yang pro-syariat. Hanya 14 %, berbeda sekali dengan persentase suara yang diberikan pada partai-partai pro-syariat pada pemilu 1955, di atas 40 %.



Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid memainkan peran penting dalam perubahan itu. (saya akan lampirkan artikel saya yang terbaru tentang Islam dan Politik di Indonesia, di sana, Anda bisa melihat analisis saya tentang dua tokoh tersebut).



Bartita baru yang saya dapat dari buku Furqon adalah bahwa cikal bakal gerakan Tarbiyah dan PKS juga bisa dirunut kepada natsir dan DDII. Tentu, seperti Anda akui juga, di belakang atau sebelum Natsir/DDII adalah Ikhwanul Muslimin, hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb. Ide-ide dan juga struktur pokok gerakan Tarbiyah dan PKS berasal dari atau diilhami oleh Ikhwanul Muslimin.



Tetapi, natsir (juga Bang Imad tentunya) memainkan peran penting untuk menjembatani dua gerakan tersebut, yaitu IM di Mesir dan tarbiyah atau PKS di Indonesia. Kesimpulan baru saya adalah bahwa natsir juga berhasil sebagai politisi, sebab selama periode pasca Orde Baru. Benihnya baru ditanam pada pemilu 1999, tetapi pohonnya kini tumbuh dengan pesat dan sehat, seperti kita lihat pada pemilu 2004.



Dari segi teoritis, pengertian atau kesimpulan baru ini terasa sangat menggetarkan, exciting. Sebab, pendekatan teoritis saya, atau setidak-tidaknya yang sedang saya kembangkan, memberi peran utama kepada tokoh, individu. Saya tidak senang dengan pendekatan-pendekatan umum di ilmu-ilmu sosial yang selalu menekankan kekuatan-kekuatan sosial/budaya/ekonomi an sich.



Bagi saya, setiap kekuatan itu, apakah kapitalisme atau Islam, hanya punya dampak pada sebuah masyarakat melalui tindakan manusia, khususnya para pemimpin. Misalnya, saya sudah lama percaya, sebab buktinya meyakinkan, bahwa Cak Nur dan Gus Dur memainkan peranan sangat penting dalam perkembangan hubungan Islam dan politik di Indonesia. Tanpa mereka, sejarah politik Indonesia akan lain.



Belakangan ini, saya mulai mempelajari sejarah gerakan Islamis di Timur Tengah, dan saya menemukan hal yang sama: tanpa hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb, sejarah Islamis di seluruh dunia Islam akan lain. Kini, ada penemuan baru yang perlu dianalisis lebih lanjt: ternyata, M. Natsir juga menjadi tokoh penting, bukan hanya pada zaman Demokrasi Parlementer, melainkan pada masa Orde Baru pula.



Saya tidak tahu apakah saya berhasil menyampaikan kesimpulan saya yang baru ini pada acara bedah buku Furqon, tetapi memang begitulah pendapat saya. Maaf, jawaban ini sudah kelewat panjang dan saya belum mengomentari argumen-argumen Anda sendiri yang menarik, misalnya tentang hubungan Tarbiyah dengan PKS di masa depan.



Sedangkan pak Anis Matta, saya menangkapnya tidak keberatan jika tesis ini mencoba mencarikan akar historis dalam konteks ke-Indonesia-an bagi gerakan Tarbiyah. Bagi saya sendiri, meskipun ada keterkaitan sejarah antara tarbiyah dengan orang-orang seperti M. Natsir, K.H. Bustami Darwis, atau dengan organisasi seperti Perti atau Masyumi, saya tetap akan mengatakan bahwa Tarbiyah lahir dari gagasan dan besar dengan gagasan Ikhwanul Muslimin. Itulah, fakta sejarah.



Karena itu pula, pada era perang terhadap terorisme yang dikobarkan oleh negara adidaya, Amerika, ini menjadi peluang empuk untuk menjerat gerakan dakwah ini. Tercatat atau tidak, diumumkan atau tidak, mereka mencoba mengaitkan dan mencoba mencari trigger untuk menarik masuk gerakan Islam tertua di dunia, Ikhwanul Muslimin, ke dalam kancah perang yang tak terbatas itu.



Bahkan, para pemikir dan kelompok think tank Amerika telah menempatkan sosok hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb, tokoh pemimpin dan ideolog di Ikhwanul Muslimin, sebagai the philosopher of terror.